Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Apakah Jin Juga Punya Akal? (Kamis, 10/02/2011 05:19 WIB)

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, menurut pengetahuan yang saya peroleh, jin itu ada yang muslim dan ada yang kafir. Apakah kafir atau muslim itu adalah pilihan jin sendiri? Kalau memang pilihan, apakah berarti jin juga diberi akal seperti manusia?

Terima kasih atas jawaban ustadz, wassalamu'alaikum wr. wb.

Yusuf
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Yusuf yang dimuliakan Allah SWT

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin [72] : 11)

Artinya bahwa sebagian dari kalangan jin ada yang senantiasa berbuat kebaikan sementara sebagian lainnya tidaklah demikian, seperti halnya manusia ada di antara mereka yang berbuat baik namun tidak sedikit dari mereka yang berbuat buruk, ada yang beriman kepada Allah namun ada pula yang kufur terhadapNya.

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al jin [72] : 13–15)

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” disebutkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa jin pun mukallaf (terkena beban-beban syariah) dan yang dikenakan perintah berdasarkan firman-Nya SWT :

وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51] : 56)

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Artinya : “Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami,” (QS. Al Jin [72] : 1–2)

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ

Artinya : “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman [55] : 33–34)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan adanya taklif (beban-beban syariah) terhadap mereka bahwasanya mereka diperintahkan serta dilarang.

Ketika disebutkan cercaan dan laknat terhadap setan-setan serta perlindung dari tipu daya dan kejahatannya, disebutkan pula apa-apa yang disiapkan Allah SWT bagi mereka berupa adzab, dan ini tidaklah dikenakan kecuali kepada mereka yang melanggar perintah dan larangan, melakukan dosa-dosa besar, melampaui batas-batasnya disertai dengan adanya kesanggpuan baginya untuk tidak melakukan hal-hal itu atau kemampuan untuk melakukan selain perbuatan demikian.

Di bagian lain disebutkan pula pendapat jumhur ulama bahwa jin mendapatkan pahala atas ketaatannya dan siksa atas kemaksiatannya, berdasarkan firman-Nya :

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al jin [72] : 13–15)

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya : “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf [46] : 19)

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Artinya : “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman [55] : 74)

Ibnu Hazm dan yang lainnya menceritakan dari Abu Hanifah berkata bahwa tidaklah ada pahala bagi mereka selain diselamatkannya dari neraka karena disebutkan didalam al Qur’an tentang mereka “Dia mengampuni dosa-dosa kalian” dan pengampunan tidaklah mengharuskan pahala karena ampunan adalah tabir.

Diriwayatkan dari Laits bin Abi Sulaim berkata, ”Pahala bagi jin adalah diselamatkan dari api neraka, lalu dikatakan kepada mereka,’Jadilah kalian tanah.” Diriwayatkan dari Abi Zannad berkata, ”Apabila para penghuni surga masuk surga dan para penghuni neraka masuk neraka. Allah berfirman, ”Bagi mereka yang beriman dari kalangan jin dan seluruh umat jadilah kalian tanah. Maka saat itulah orang-orang kafir berkata, ’Aduhai seandainya aku menjadi tanah (saja).”

Kemudian para ulama bersepakat bahwa jin-jin yang kafir kelak mendapatkan adzab di akherat, sebagaimana disebutkan Allah SWT didalam Al Qur’an

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al Jin [72] : 15)

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Artinya : “Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad [47] : 12)

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa jin juga terkena beban-beban syariah dan kelak akan mendapatkan balasan dari ketaatannya atau siksa atas kemaksiatannya berarti mereka juga diberikan kemampuan (akal) untuk bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara perkara-perkara yang diperintahkan Allah dan dilarang-Nya karena atas dasar itulah seorang mukallaf mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.

Wallahu A’lam

Source: Eramuslim

Wednesday, February 9, 2011

How Easy Islam really is, Jannah, Good Manners

Narrated Abu Huraira (may Allah have mercy on him)
The Prophet (Sallallahu Alayhi wa Sallam) said, “Religion is very easy and whoever overburdens himself in his religion will not be able to continue in that way. So you should not be extremists, but try to be near to perfection and receive the good tidings that you will be rewarded; and gain strength by worshipping in the mornings, the nights.”
Sahih Bukhari Volume 1, Book 2, Number 38

Prophet Muhammad (pbuh) said, "O people, spread the salaam (greetings), feed the hungry, and pray while the people are asleep, you will enter Jannah in peace."
[Tirmidhi]

The Prophet Muhammad (peace be upon him) was reported to have said: 'The most perfect Muslim in the matter of faith is one who has excellent behavior; and the best among you are those who behave best towards their wives"
(From Mishkat al-Masabih, No. 0278(R) Transmitted by Tirmidhi)

Source: myhadithoftheday.com

Sunday, February 6, 2011

Dogs, Who To Be Like, Sadaqa

Allah's Apostle (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) said, "If somebody keeps a dog, he loses one Qirat (of the reward) of his good deeds everyday, except if he keeps it for the purpose of agriculture or for the protection of livestock."
[Bukhari Vol. 4 : No. 541]

Narrated Abu Huraira: Allah's Apostle (peace be upon him) said, "Not to wish to be the like except of two men. A man whom Allah has given the (knowledge of the) Qur'an and he recites it during the hours of night and day and the one who wishes says: If I were given the same as this (man) has been given, I would do what he does, and a man whom Allah has given wealth and he spends it in the just and right way, in which case the one who wishes says, 'If I were given the same as he has been given, I would do what he does.' "
(See Hadith No. 543 and 544, Vol 6 - Bukhari)

Narrated Abu Huraira: Allah's Apostle (peace be upon him) said, "There is a Sadaqa to be given for every joint of the human body; and for everyday on which the sun rises there is a reward of a Sadaqa (i.e.charitable gift) for the one who establishes justice among people."
[Bukhari Bk 49,Vl 3,No 870]

Source: myhadithoftheday.com

Saturday, February 5, 2011

Ramadan, Islam, Good Deeds

Narrated Abu Huraira (RA): Allah's Apostle (SAW) said, "Allah said, 'All the deeds of Adam's sons (people) are for them, except fasting which is for Me, and I will give the reward for it.' Fasting is a shield or protection from the fire and from committing sins. If one of you is fasting, he should avoid sexual relation with his wife and quarreling, and if somebody should fight or quarrel with him, he should say, 'I am fasting.' By Him in Whose Hands my soul is' The unpleasant smell coming out from the mouth of a fasting person is better in the sight of Allah than the smell of musk. There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord; then he will be pleased because of his fasting."
[Sahih Bukhari, Chapter ‘Fasting', Volume 3, Book 31, Hadith 128]

Narrated Umm al−Ala: The Apostle of Allah (peace be upon him)visited me while I was sick. He said: Be glad, Umm al−Ala' for Allah removes the sins of a Muslim for his illness as fire removes the dross of gold and silver.
(Abu Dawud Bk 20,No 3086)

Prophet Muhammad (peace be upon him) said: "Do good deeds properly, sincerely and moderately. Always adopt a middle, moderate, regular course, whereby you will reach your target (of paradise). [Sahih Al-Bukhari, Volume 8,Hadith 470]

Source: myhadithoftheday.com

Wednesday, February 2, 2011

Rewards for Fasting, Warning, Fasting

Abu Ayyub (R.A) reported: The Messenger of Allah said, " He who observes As-Saum (the fasting) in the month of Ramadan, and also observes As-Saum for six days in the month of Shawwal, it is as if he has observed As-Saum for the whole year."
(Muslim)

The Prophet (peace be upon him), “Should I not inform you of that which I fear for you even more than the dangers of dajjaal? It is the hidden shirk: A person stands to pray and he beautifies his prayer because he sees the people looking at him”.
(Sahih; Sunan ibn Majah)

Abu Hurairah (radi Allahu anhu) narrated that the Messenger of Allah (sal Allahu alaihi wa sallam) said: ‘When Ramadhan comes, the gates of mercy are opened and the gates of Hell are shut, and the devils are put in chains.
[The Book of Fasting: Sahih Muslim]

Source:myhadithoftheday.com

Wednesday, January 26, 2011

The Rights of a Muslim, Rewards, Ramadan

Narrated Abu Huraira: I heard Allah's Apostle saying, "The rights of a Muslim on the Muslims are to follow the funeral processions, to accept invitation and to reply the sneezer. (Bukhari Vl 2,No 332)

Abud-Darda (May Allah be pleased with him) reported: The Messenger of Allah (peace be upon him) said, "Shall I not inform you of the best of your actions which are the purest to your Rubb, which exalt you to the high ranks, which are more efficacious than spending gold and silver (in charity), and better for you than you should encounter your enemies whom you will smite their necks and they will smite your necks?'' They said, "Certainly.'' He (PBUH) said, "Remembrance of Allah the Exalted.''
[At-Tirmidhi]

Narated By 'Aisha : Allah's Apostle (peace be upon him) used to pray eleven Rakat at night and that was his night prayer and each of his prostrations lasted for a period enough for one of you to recite fifty verses before Allah's Apostle raised his head. He also used to pray two Rakat (Sunna) before the (compulsory) Fajr prayer and then lie down on his right side till the Muadh-dhin came to him for the prayer.
[Sahih Al-Bukhari Volumn 002, Book 016, Hadith Number 108]

Sunday, January 23, 2011

Focusing on Yourself, Marriage, the Day of Judgement

Rasul Allah (sal Allahu alaihi wa sallam) said: "O you who have entered Islam with your tongues but whose hearts faith has not entered: do not slander people, and do not ferret out people's shameful points. Whoever searches out the shameful points of his brother, Allah will search out his shameful points, and if Allah searches out a person's shameful points, be sure that He will disgrace him even if he should remain in the middle of his house." [Abu Dawud]

Narrated By 'Aisha : Allah's Apostle (peace be upon him) said (to me), "You were shown to me in a dream. An angel brought you to me, wrapped in a piece of silken cloth, and said to me, 'This is your wife.' I removed the piece of cloth from your face, and there you were. I said to myself. 'If it is from Allah, then it will surely be."
[Sahih Bukhari Volume 007, Book 062, Hadith Number 057]

From the Prophet (peace be upon him), who said : "Allah (mighty and sublime be He) says : The first of his actions for which a servant of Allah will be held accountable on the Day of Resurrection will be his prayers. If they are in order, then he will have prospered and succeeded: and if they are wanting, then he will have failed and lost. If there is something defective in his obligatory prayers, the Lord (glorified and exalted be He) will say: See if My servant has any supererogatory prayers with which may be completed that which was defective in his obligatory prayers. Then the rest of his actions will be judged in like fashion."
[Hadith Qudsi 9]

Source: myhadithoftheday.com

Saturday, January 22, 2011

Hafsah yang Gemar Berpuasa

Hafshah binti Umar bin Khatab adalah ummul mukminin yang gemar berpuasa dan shalat. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un binti Hasib. Hafshah adalah sebelumnya isteri dari sahabat Khunais bin Khudzafah al-Sahmi yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan Madinah.Suaminya Khunais syahid pada perang Uhud.

Meskipun, hidupnya dirundung duka nestapa, semenjak suaminya syahid di padang Uhud, dan penuh dengan duka, keimanan dan keteguhan (sikapnya yang tsabat) hati Hafshah dapat meredam segala yang terjadi dan menerpa dirinya, dan Hafshah menyadari benar bahwa semua adalah semata karena takdir-Nya.

Kesabaran, ketabahan, sikap hidup yang qanaah (ridha) selalu menyelimuti pribadinya. Tidak pernah berkeluh kesah dengan keadaan yang dihadapinya. Segalanya diterima penuh dengan ikhlas dan tawakal. Dijalaninya kehidupan sehari-hari tanpa rasa cemas dan khawatir, dan selalu yakin atas janji Allah Azza Wa Jalla. Hafshah yakin atas pertolongan dari Allah, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Wanita Muslimah itu benar-behar pasrah-seprasahnya. Tidak bersuudhon (berburuk sangka) kepada Allah Rabbul Alamin.

Karena sikap yang sangat zuhud dan wara’, dan selalu berpuasa itu, maka ia mendapatkan julukan ‘sawwamah’ (orang yang selalu berpuasa) dan qawwamah (orang yang selalu bangun malam). Hafshah tidak pernah henti berpuasa dan bangun malam untuk bertemu dengan Rabbnya. Hidupnya tidak dimanjakan dengan keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dari Rabbnya. Maka, ia selalu berpuasa, menahan lapar dan dahaga, dan terus bangun malam, meskipun di siang hari tetap bekerja.

Kemudian, Umar berkeinginan keras agar Hafshah dapat dipertemukan dengan Utsman r.a., namun dengan sikapnya yang halus, ternyata Utsman menyatakan ketidaksanggupannya. Betapa Hafshah di mata Utsman, wanita yang sangat mulia, puteri Umar, dan kehidupan yang penuh dengan zuhud dan wara’, serta berpuasa dan bangun malam. Demikian pula, sahabat Abu Bakar As-Sidiq, tak sanggup untuk menikahinya.

Tetapi, segala ketentuan kehidupan ada di tangan Allah Azza Wa Jalla, dan takdir dan hikmah-Nya yang sangat agung. Kemudian, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menikahinya dan menjadikan dia sebagai ‘ummul mukminun’, gelar kehormatan bagi para isteri Rasulullah Shallahu Alaih Wa Salam.

Dengan kehidupan yang begitu sedih, cobaan begitu berat, tetapi tidak menghilangkan rasa cintanya kepda Allah Azza Wa Jalla. Tetap bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah, berpuasa yang terus menerus, dan melakukan ibadah di malam hari, Hafshah akhirnya menjadi ‘Ummul Mukminun’. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di disisi-Nya.

Betapa kehidupan ini hanya dapat dinikmati dengan melakukan ibadah-ibadah yang berat, dan penuh dengan pengorbanan, serta menjadikan Rabbnya semata menjadi tujuan hidupnya. Kesedihan yang mula-mula mengawalinya dalam kehidupan, kemudian berakhir dengan kebahagiaan. Ummu Syahidah.

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/hafshah-yang-gemar-berpuasa.htm

Heaven and Hell, Our Prophet's (pbuh) Hair, Itr

Prophet Muhammad Pbuh
Narrated By 'Abdullah : Allah's Apostle (peace be upon him) said, "Anyone who dies worshipping others along with Allah will definitely enter the Fire." I said, "Anyone who dies worshipping none along with Allah will definitely enter Paradise."
[Bukhari 330]

Baraa bin Aazib R.A. reports: "Rasulullah (peace be upon him) was of average height, and the portion between the two shoulders was wide. His hair was till his ear lobes".
[Tirmidhi 025]

Thumaamah bin Abdullah radiyallahu anhu reports, Anas bin Maalik did not refuse itr, and used to say that Rasoolullah sallallahu alaihe wasallam never refused (the acceptance of) itr.
[Tirmidhi 208]

Source: myhadithoftheday.com

Thursday, January 20, 2011

Amazing Advice, Inheritance, Making the Pledge

Narated By 'Abdullah bin ?Amr: A man asked the Prophet (peace be upon him), "What Islamic traits are the best?" The Prophet (peace be upon him) said, "Feed the people, and greet those whom you know and those whom you do not know."
[Bukhari 253]

Usama b. Zaid reported Allah's Messenger (may peace be upon him) as saying: A Muslim is not entitled to inherit from a non-Muslim, and a non-Muslim is not entitled to inherit from a Muslim.
[Muslim 3928]

Narated By Jarir bin 'Abdullah : I gave the pledge of allegiance to Allah's Apostle for to offer prayers perfectly, to pay Zakat regularly, and to give good advice to every Muslim.
[Bukhari 502]

Source: myhaditoftheday.com

Tuesday, January 18, 2011

Eclipses, Wudu, Prophet's (pbuh) Hair

Narated By Abu Masud : The Prophet (peace be upon him) said, "The sun and the moon do not eclipse because of the death of someone from the people but they are two signs amongst the signs of Allah. When you see them stand up and pray."
[Bukhari 151]

Narated By 'Abdullah bin 'Amr : Once the Prophet (peace be upon him) remained behind us in a journey. He joined us while we were performing ablution for the prayer which was over-due. We were just passing wet hands over our feet (and not washing them properly) so the Prophet addressed us in a loud voice and said twice or thrice: "Save your heels from the fire."
[Bukhari 57]

Qatadah R.A. reports: "I asked Anas R.A., 'Did Rasulullah (Sallallahu alaihe wasallam) dye his hair?'" He replied: "The hair of Rasulullah (Sallallahu alaihe wasallam) did not reach such a stage where one would use a dye; however Rasulullah (Sallallahu alihe wasallam) did have a few white hair on his temples, on the other hand Abu Bakr R.A. dyed his hair with Hina and Katm."
[Tirmidhi 036]

Monday, January 17, 2011

Medicine, Beloved Prophet's (pbuh) Speech, the Day of Judgement

Narrated By Abu Huraira: The Prophet said, "There is no disease that Allah has created, except that He also has created its treatment."
[Bukhari 582]

Narrated by Aisha: "The speech of Rasoolullah Sallallahu Alaihe Wasallam was not quick and continuous as that of yours. He spoke clearly, word for word. A person sitting in his company remembered what he said."
[Tirmidhi 582]

Narrated By Abu Huraira : The Prophet (peace be upon him) said, "Every Prophet was given miracles because of which people believed, but what I have been given, is Divine Inspiration which Allah has revealed to me. So I hope that my followers will outnumber the followers of the other Prophets on the Day of Resurrection."
[Bukhari 504]

Source: myhadithoftheday.com

Jangan Biarkan Pornografi Merenggut Kepolosan Anak-anak Kita (Senin, 17/01/2011 09:21 WIB)

(Oleh-oleh dari Seminar Sex & Financial Planning)
Senang sekali pagi tadi (Sabtu, 15/1) dapat berjumpa dengan Bunda Elly Risman dalam seminar “Sex & Financial Planning” di Universitas Paramadina. Meski telat, begitu masuk ruangan, saya sudah disuguhi dengan data dan fakta bahwa anak-anak usia SD di negeri kita tercinta ini sudah banyak yang melakukan seks bebas.
Bayangkan, usia SD! Saya hanya bisa mengelus dada melihat tampilan di layar proyektor yang menyajikan berbagai headline dari surat kabar mengenai kasus seks bebas yang menimpa anak-anak SD itu. Mereka tidak hanya menjadi korban, tapi banyak yang menjadi pelaku. Ada anak yang memperkosa teman sekelasnya, dsb.
Mungkin Anda tidak percaya, tapi survey yang dilakukan oleh Bunda Elly selama tahun 2008—2010 kepada anak-anak usia SD (kelas 4,5, dan 6) menyimpulkan bahwa mereka sudah kenal seks, dari yang ‘kelas ringan’ hingga ‘kelas berat’. Dalam survey itu, anak-anak juga diminta untuk menuliskan pertanyaan yang terkait dengan seks.
Rupanya, banyak istilah seks yang mereka tanyakan, yang aneh-aneh, yang saya sendiri juga tak sanggup menuliskannya di sini. Astaghfirullah! Ayah, Bunda, ke mana saja engkau selama ini…
Bunda Elly kemudian menjelaskan dengan rinci dari mana saja sumber pornografi itu dapat diakses oleh anak-anak. Tentu saja, media sangat berperan. HP, internet, games, televisi, koran, majalah, vcd, semua dapat diakses dengan mudah, kapan saja, di mana saja. Ayah, Bunda yang memberikan hape untuk putra/inya agaknya harus berpikir seribu kali mengenai dampaknya. Banyak video asusila dan adegan-adegan tak pantas dapat dengan mudah berpindah dari satu hape ke hape lainnya.
Belum lagi fasilitas internet yang hanya dengan sekali klik, ribuan situs porno dapat terakses. Sebagai catatan, ratusan situs porno bermunculan setiap minggunya. Bayangkan, ketika anak kita diberikan tugas Biologi mengenai nyamuk dan lalat, misalnya, mereka dapat dengan tidak sengaja mengakses situs porno karena situs ‘nyamuk**.com’ dan ‘lalat**.com’ salah satu situs porno. Ada beberapa situs porno yang paling banyak diakses oleh anak-anak, di antaranya: ***tube.com dan naruto***.com.
Selain internet, games juga jadi media porno yang efektif untuk anak-anak, lihat saja games GTA San Andreas dan Sims I & II yang banyak dimainkan oleh anak-anak tanpa pengawasan kita, bahkan kita sendiri pun belum tentu tahu games itu.
Baru-baru ini juga ada sebuah games yang diluncurkan, yaitu Rape Lay, yang banyak dikecam di dunia internasional karena menampilkan gambar-gambar seronok dengan vulgar dan jalan ceritanya pun memang dikondisikan seperti itu. Lihat saja dari judulnya, Rape Lay = Rape Play.
Naudzubillahi min dzalik kalau sampai anak-anak kita mengakses games itu. Ayah, Bunda, menjadi catatan juga untuk orang tua yang memperkenankan anak-anaknya untuk bermain di warnet dan games center. Untuk menarik fulus dari anak-anak, bahkan ada warnet yang menawarkan paket ‘Durhaka’, yakni dari Jumat malam hingga hari Minggu, anak-anak bisa main games sepuasnya ditambah disediakan makanan dan minuman pula hanya dengan membayar Rp50 ribu! MasyaAllah, jangan sampai kita jadi orang tua yang membiarkan anak-anak seperti itu.
Belum lagi dari televisi. Beberapa film kartun yang ditonton anak-anak juga merupakan sarana penyebaran pornografi, misalnya: Sinchan, Naruto, bahkan Popeye. Sinetron remaja juga setali tiga uang, bahkan tak segan menampilkan adegan ciuman oleh pelajar SMP! Ayah, Bunda, tak heran ya, jika begitu marak kasus seks bebas dan pornografi melanda anak-anak kita. Jangan kaget juga kalau belasan siswi di salah satu SMP negeri di Jakarta juga ketauan berprofesi sebagai PSK.
Dahsyatnya serbuan pornografi kepada anak-anak kita ternyata tak disadari oleh sebagian besar orang tua (dan mungkin kita termasuk di dalamnya). Ayah dan Bunda terjebak dalam pola lama, yaitu Ayah mencari nafkah, Bunda mengasuh anak. Ortu mengekspor tanggung jawab dengan menyekolahkan anak ke SDIT atau sekolah Islam lain. Saking sibuknya ortu, waktu akhir pekan pun malah diisi dengan ‘menceramahi’ anak ini-itu yang membuat jarak ortu dengan anak semakin jauh.
Ayah, Bunda, sadarkah kita dengan pola asuh yang kita terapkan selama ini? Anak-anak ‘berteriak’ minta diberikan pendidikan seks sejak dini, tapi kita masih tabu dan saru membicarakannya. Akankah kita berdiam diri saja, membeo, atau mengulang sejarah yang kelam?! Tidak.
Kini saatnya, Ayah dan Bunda mengubah pikiran, bahwa mengasuh anak yang merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga adalah tanggung jawab dunia akhirat. Kelak, kita akan ditanyai pada hari kiamat, bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Bagaimana cita-cita kita ingin menjadikan anak soleh-soleha, berguna bagi nusa dan bangsa, jika Ayah dan Bunda terus saja menuntut prestasi akademis tapi membiarkan jiwa sang anak labil tanpa pegangan agama?!
Sebagai solusi, Bunda Elly memberikan kiat dasar mengajarkan seksualitas sejak dini. (Ingat, seks dan seksualitas itu berbeda). Pertama, jangan borongan: mulai dari sedini mungkin, misal: anak usia 3-5 tahun diberikan pengetahuan tentang laki-laki dan perempuan. Kedua, hadirkan Allah selalu dalam berkomunikasi dan memberikan pengetahuan kepada anak. Ketiga, jangan pernah ekspor tanggung jawab sebagai ortu kepada sekolah. Keempat, perhatikan konsep diri anak, jangan sampai anak minder dan mempunyai konsep diri yang buruk karena omongan ortunya yang merendahkan. Kelima, biasakan anak untuk berpikir kritis. Keenam, jadilah model dan teladan yang baik untuk anak-anak, jangan sampai anak malah meniru para artis sebagai panutannya. Ketujuh, terlibat penuh dalam perkembangan anak, selalu tanya pendapatnya mengenai suatu hal.
Sebagai catatan, ortu juga mesti menuntaskan pengetahuan tentang Thaharah (bersuci) sebelum si anak berumur 10 tahun. Pada masa sekarang, karena gizi yang semakin baik, anak-anak ada yang mencapai baligh pada usia 9 tahun (perempuan) atau 10-11 tahun (laki-laki).
Maka, ortu harus memberikan pemahaman mengenai apa itu haid/menstruasi atau mimpi basah kepada anak dan apa konsekuensinya. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersuci atau mandi wajib setelah terjadi hal tersebut agar dapat melaksanakan ibadah seperti biasa. Ajarkan pula kepada anak mengenai hal itu.
Yang paling penting, ortu harus kompak memantau perkembangan anak dan jalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga anak tidak mencari pelarian lain. Buat tabel kurikulum pendidikan seks untuk tiap anak yang berisi kegiatan yang akan dilakukan, siapa mentornya, dan kapan dilaksanakan.
Misalnya, penjelasan mengenai dampak positif dan negatif internet, PS, HP, TV kepada anak-anak. Dalam menghadapi pertanyaan yang aneh-aneh dari anak, biasakan untuk tetap tenang, dan cek dahulu pemahaman anak, baru menjawab pertanyaan dengan sederhana dan sesuaikan dengan usia serta perkembangan anak.
Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan untuk Ayah, Bunda, dan teman-teman semua. Ayah, Bunda yang sudah menjadi orang tua, mulai saat ini, ubahlah pola asuh anak dan tanamkan agama sejak dini. Buat yang sudah menikah, saatnya untuk menimba ilmu tentang pola pengasuhan anak yang baik dan rencanakan bagaimana cara yang efektif mendidik anak.
Bagi teman-teman yang belum menikah, terus perbaiki diri dan mencari pasangan hidup yang baik agamanya karena sangat menentukan bagaimana generasi yang akan kita lahirkan kelak. Semoga bermanfaat.
Indah P. Rukmi (calon Bunda yang sedang belajar menjadi orang tua)

Source : http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita.htm

Thursday, January 13, 2011

Madinah, Prophet's (pbuh) Hair, Sadaqa

Narated By Abu Huraira : If I saw deers grazing in Medina, I would not chase them, for Allah's Apostle said, "(Medina) is a sanctuary between its two mountains."
[Bukhari Hadith No. 97]

Jaabir bin Samurah R.A. was asked: "Were there any white hair in the blessed head of Rasulullah (Sallallahu alaihe wasallam)? He replied: 'He only had a few on the middle parting, and when Rasuullah (Sallallahu alaihe wasallam) oiled his hair, they did not show'".
[Tirmidhi Hadith No. 43]

Narated By Anas : The Prophet passed a date fallen on the way and said, "Were I not afraid that it may be from a Sadaqa (charitable gifts), I would have eaten it.
[Bukhari 612]

Source: myhadithoftheday.com

Dibandingkan Perempuan Barat, Muslimah Diakui Lebih Hebat di Bidang Sains (Tuesday, 24/08/2010 07:19 WIB)

Ketika negara-negara Barat meributkan bahkan gencar memberlakukan larangan muslimah berjilbab dan bercadar di tempat-tempat umum termasuk institusi pendidikan, ketika sebagian besar masyarakat Barat masih berpandangan bahwa Islam merendahkan dan menindas kaum perempuan, perempuan-perempuan muslim justru muncul sebagai kaum perempuan yang paling berpendidikan di seluruh dunia. Bahkan di negara Arab Saudi, yang memberlakukan aturan Islam yang ketat terhadap kaum perempuannya. Para muslimah di Arab Saudi rata-rata lulusan universitas dan menjadi kaum perempuan yang berprestasi dan sukses di dunia, antara lain di bidang ilmu pengetahuan.

In Picture: Samira Islam

Badan PBB yang membidangi masalah pendidikan, UNESCO dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa kaum perempuan yang mendaftarkan diri ke jenjang universitas dan kaum perempuan yang menyandang gelar sarjana di Arab Saudi jumlahnya melebihi rata-rata jumlah kaum perempuan di Barat yang bergelar sarjana atau mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas.

Laporan UNESCO juga menyebutkan, di 13 negera muslim, kaum perempuan yang menggeluti bidang ilmu pengetahuan persentasenya lebih tinggi dibandingkan kaum perempuan di AS. Bahkan di Arab Saudi, 40 persen sarjana yang bergelar doktor adalah kaum perempuan ! Diantara tokoh Arab masa kini yang dikenal aktif mengenalkan sains pada kaum perempuan sehingga mereka berminat mempelajari atau terjun ke dunia sains adalah Syaikh Mozah dari Qatar dan Puteri Sumaya di Yordania.

Tak diragukan lagi, perempuan-perempuan muslimlah yang kini memimpin revolusi sains di dunia Islam. Salah seorang muslimah yang prestasinya di bidang ilmu pengetahuan sudah diakui dunia dunia adalah Samira Islam. Seorang muslimah asal Saudi yang bergelar PhD dan satu dari sedikit perempuan dunia yang mendapat penghargaan "Women in Science" dari UNESCO.

Di negara asalnya, Samira berperan penting dalam mengembangkan sistem pendidikan bagi kaum perempuan. Ia mengatakan, dalam banyak hal, kondisi di Arab Saudi pada akhir tahun 1950-an--saat ia masih remaja--sangat jauh berbeda dengan sekarang. "Pada masa itu jumlah sekolah masih sangat sedikit dan pendidikan bagi kaum perempuan masih sangat primitif. Sebagian besar orang tua di Saudi lebih senang anak perempuannya diam di rumah, hanya belajar Al-Quran. Itulah pendidikan maksimal kaum perempuan Saudi kala itu," tutur Samira.

Tapi Samira beruntung memiliki orang tua, terutama ayahnya yang menginginkannya mendapatkan pendidikan yang baik. Ayah Samira menyewa jasa guru dari sekolah lokal untuk membimbing Samira belajar. Ketika memasuki jenjang sekolah menengah pertama, ayah Samiran menyadari fasilitas pendidikan jenjang sekolah menengah bagi anak perempuannya sangat minim di Saudi. Samira lalu dikirim ke Mesir untuk melanjutkan sekolah dan akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai mendapat gelar PhD di bidang farmasi.

"Gelar PhD yang berhasil saya raih menjadi berita besar di Saudi dan banyak orang yang mewawancarai ayah saya," kata Samira.

Ia lalu bercerita, "Ada sebuah surat kabar yang mewawancarai ayah saya, itu adalah terakhir kalinya ayah saya diwawancarai sebelum ia wafat. Pertanyaan terakhir yang ditanyakan wartawan surat kabar itu pada ayah saya adalah, bagaimana perasaannya tentang puterinya, yang menjdi perempuan Saudi pertama bergelar PhD. Ayah saya menjawab, 'Sekarang, saya bisa menerima kematian dengan tenang.'" Beberapa bulan kemudian, ayah Samira wafat dan Samira memutuskan untuk kembali ke Arab Saudi.

Samira kemudian bekerja Universitas King Abdul Aziz yang membuka perkualiahan khusus untuk mahasiswi meski mereka tidak diizinkan mendaftarkan diri secara resmi di universitas tersebut. Tapi tak banyak kaum perempuan yang mengikuti program perkuliahan itu karena jadwal kuliahnya selepas maghrib dan lokasi gedung kuliah yang terpisah dari kompleks universitas. Samira tidak nyaman dengan kondisi ini. Ia lalu memperjuangkan agar program perkuliahan khusus untuk mahasiswi dijadikan program resmi universitas tersebut.

Perjuangan Samira tidak berjalan mulus karena masyarakat Saudi masih sangat fanatik dan masih beranggapan bahwa kaum perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan di luar rumah. Pimpinan Universitas King Abdul Aziz mengingatkan Samira bahwa kelompok-kelompok fanatik akan membunuhnya jika nekad membuka perkuliahan khusus untuk mahasiswi. Tapi Samir bersikeras minta diberi kesempatan.

"Memang ada kelompok masyarakat yang fanatik--saya tidak senang menggunakan istilah kaum Islamis--yang merusak citra Islam, karena diantara mereka ada kalangan oportunis yang menentang sekolah untuk anak perempuan. Kelompok ini mendatangi Raja Faisal dan mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan anak-anak perempuan mereka sekolah. Raja Faisal lalu mengatakan, 'Bahkan jika sekolah itu ada di gurun pasir, siapa saja yang mau sekolah silahkan sekolah, yang tidak mau ke sekolah tidak perlu datang ke sekolah,'" papar Samira menceritakan pengalamannya.

Perjuangan Samira mulai membuahkan hasil pada tahun 1974. Anak-anak perempuan boleh secara resmi mendaftarkan diri ke universitas. Mereka bisa mengambil jurusan kedokteran dan sains. "Waktu berjalan dengan cepat dan sebagian besar masyarakat sekarang sudah bisa menerima perubahan itu," ujar Samira.

Di tahun pertama, kata Samira, ada 40 mahasiswi yang mendaftarkan diri ke jurusan sains dan 60 mahasiswi mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran. Sekarang, 55 persen dari jumlah total mahasiswa di Saudi adalah kaum perempuan. "Saya tidak tahu apakah ini karena pengaruh dari pengalaman saya tinggal di Mesir, tapi saya ingin melihat adanya perubahan meski lambat, dan banyak hal yang kini telah berubah. Kami memiliki muslimah-muslimah yang terbukti cerdas dan mampu menjadi seorang ilmuwan," tandas Samira.

Itu baru Arab Saudi, belum negara-negara muslim lainnya yang cenderung lebih memberi kelonggaran bagi kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Laporan UNESCO menunjukkan bahwa para muslimah dari dunia Islam sudah mengalahkan kaum perempuan di Barat dari sisi pendidikan. Bukan tidak mungkin, dunia ilmu pengetahuan di dunia yang pernah berjaya di tangan para ilmuwan muslim, di masa depan akan berada di tangan para muslimah-muslimah dari negeri-negeri muslim. (ln/elan)

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/dibandingkan-kaum-perempuan-barat-muslimah-diakui-lebih-hebat-di-bidang-sains.htm

Waspadai Kebiasaan Berdusta (Minggu, 02/05/2010 09:02 WIB)


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik terdapat sebuah dialog antara seorang sahabat dengan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Lengkapnya sebagai berikut:

و حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُ قَالَ

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا

فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا فَقَالَ نَعَمْ

فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا فَقَالَ لَا

(MALIK - 1571) : Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata; "Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?" Beliau menjawab: 'Ya." Kemudian ditanya lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil?" Beliau menjawab: "Ya." Lalu ditanyakan lagi; "Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?" Beliau menjawab: "Tidak."

Berdasarkan hadits itu jelas bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memaklumi jika seorang mukmin memiliki sifat sebagai penakut. Begitu pula Nabi shollallahu ’alaih wa sallam masih memaklumi jika seorang mukmin memiliki sifat bakhil. Namun Nabi shollallahu ’alaih wa sallam samasekali tidak membenarkan seorang mukmin menjadi seorang pembohong alias pendusta. Mengapa demikian?

Di dalam berbagai penjelasan –baik ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam- selalu saja sifat kaum munafiqun dikaitkan dengan kebiasaan berdusta. Berdusta merupakan trademark utama kaum munafiqun.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS Al-Munafiqun ayat 1)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ

كَانَ مُنَافِقًاأَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ

كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ

وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

(BUKHARI - 2279) : Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada empat hal yang bila ada pada seseorang berarti dia adalah munafiq atau siapa yang memiliki empat kebiasaan (tabi'at) berarti itu tabiat munafiq sampai dia meninggalkannya, yaitu jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, jika membuat kesepakatan khiyanat dan jika bertengkar (ada perselisihan) maka dia curang".

Oleh karenanya, sudah sepatutnya orang-orang beriman mewaspadai sifat dan kebiasaan berdusta. Karena jika seseorang sudah mulai terbiasa berdusta, maka ia akan distempel Allah menjadi seorang pendusta. Dan pada gilirannya hal ini bisa menceburkan dirinya ke dalam golongan kaum munafiqun. Dan sebaliknya, jika ia membiasakan diri untuk selalu berlaku benar atau jujur, niscaya ia akan dicap oleh Allah sebagai lelaki yang jujur, sehingga ia bakal digolongkan ke dalam kelompok orang beriman sejati.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ

حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًاوَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ

وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

(BUKHARI - 5629) : Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa`il dari Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta."

Saudaraku, dalam kehidupan modern dimana fitnah sedemikian mewabah, sangatlah sulit menemukan sifat jujur di tengah masyarakat. Sebaliknya, sangat mudah kita jumpai sifat berdusta di sekeliling kita. Sedemikian langkanya sifat jujur sehingga kita sering mendengar orang berkata: ”Mana bisa maju kalau kita berlaku jujur terus..... Sudahlah, bersikap realistik sajalah. Kita kadang-kala memang perlu berbohong...!” Malah, terkadang kita mendengar orang dengan yakinnya berkata: ”Hanya dengan berbohonglah kita bakal berhasil di dunia...!”

Orang yang hidup penuh dusta akan menjadi orang yang senantiasa dilanda keraguan. Sedangkan orang yang hidup selalu berlaku jujur pasti akan memiliki ketenteraman di dalam hatinya, walaupun ia berresiko dikucilkan. Demikianlah janji Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

(TIRMIDZI - 2442) : Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam: "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan."

Saudaraku, waspadailah kebiasaan berdusta yang menjadi ciri utama kaum munafiqun. Sebab inilah kelompok manusia yang paling merugi kelak. Mereka bukan saja bakal bernasib sama dengan kaum kafir, yaitu masuk ke dalam azab Allah neraka yang menyala-nyala. Tetapi mereka bahkan dimasukkan ke dalam neraka dengan berada di kapling paling berat siksanya. Dan mereka kekal di dalamnya, tanpa ada fihak yang bisa menolong.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (QS An-Nisa ayat 145).

Source: http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/waspadai-kebiasaan-berdusta.htm

Wednesday, January 12, 2011

Wonderful Character, How our Prophet Pbuh Walked, Friday Prayer


Narrated by Aisha (RA) "It was not the nature of Rasulullah Sallallahu 'Alayhi Wasallam to talk indecently, nor did he engage himself in the use of obscene language. Nor did he shout and talk in the bazaars (which is against dignity). He did not avenge a bad deed with a bad one, but forgave it, and thereafter did not even mention it". [Tirmidhi]

Narrated by Abu Hurairah "I did not see anyone more handsome as Rasoolullah sallallahu alaihe wasallam. It was as if the brightness of the sun had shone from his auspicious face. I did not see anyone walk faster than him, as if the earth folded for him. A few moments ago he would be here, and then there. We found it difficult to keep pace when we walked with him, and he walked at his normal pace."
[Tirmidhi]

The Prophet (peace be upon him) said, "When it is a Friday, the angels stand at the gate of the mosque and keep on writing the names of the persons coming to the mosque in succession according to their arrivals. The example of the one who enters the mosque in the earliest hour is that of one offering a camel (in sacrifice). The one coming next is like one offering a cow and then a ram and then a chicken and then an egg respectively. When the Imam comes out (for Jumua prayer) they (i.e. angels) fold their papers and listen to the Khutba."
Masha'Allah. What a beaautiful Hadith.
[Bukhari. Book 13 Hadith 51]

Source: myhadithoftheday.com

Aku, Anakku dan Hujan (Jumat, 07/01/2011 14:54 WIB) Oleh Halimah

Angkasa mulai mengumpulkan kekuatannya. Wajahnya hitam legam. Mentari pun tak berani menembus blokade itu. Hingga angin berlari tungganglanggang, menebas dan menerbangkan semua yang dilaluinya.

“Sebentar lagi hujan.” Beku suara itu di telingaku.

“Nah, nah, hampir saja menabrak angkot ini!” Sang sopir tak berhenti membuka mulutnya.

Aku merasa terganggu.

Kutengadahkan wajahku, menilik dijendela kecil angkot yang berwarna kuning ini, langit memang sedang muram. Angin memang menemaninya.

“Awasss…” teriakku, karena beberapa bakul yang terbuat dari anyaman bambu, terbang melintas di atas angkot yang sedang berjalan di jalan raya Teluk Lingga.

Aku merasa malu. Tadi aku tak begitu suka sopir banyak bercakap, tapi ternyata suaraku lebih dari sang sopir, malahan aku berteriak.

Jilbabku yang memang lebar akhirnya aku rentankan agak lebar bagian bawahnya untuk ksatria kecil di sampingku. Badannya sedikit meriang.

“Nak, masuk kedalam jilbab Mama ya?” Thoriq pun langsung membuka sedikit lebih lebar jilbab yang aku kenakan. Dan diapun merasa aman di 'gua' jilbab, disampingku.

Terasa hangat tubuhku, karena anakku, melekat erat disampingku. Aku yang tadi sedikit gemetar, mulai merasakan nikmatnya kehangatan tubuh.

Aku ingat istilah pada pelajaran Biologi, 'Simbiosis Mutualisme'. Aku yang tadinya berniat agar anakku terjaga dari terpaan angin dan pasir, dengan masuk kedalam jilbab yang aku kenakan, ternyata aku pun merasakan manfaatnya juga.


Aku memerhatikan kiri dan kanan jalanan yang dilalui angkot. Takut terlewat tempat yang ingin aku singgahi. Hujan mulai turun dengan sangat derasnya, tapi aku tak membawa payung pagi ini, seperti yang biasa aku lakukan.

Aku memandangi anakku, berpikir agak lama, “kemana aku akan membawanya singgah. Sementara dia lagi tak sehat.”

“Berhenti di bengkel motor Honda ya Mas.” Sopir pun menganggukan kepalanya, tanda mengerti.

Aku memilih tempat itu karena disamping bengkel aku melihat sebuah garasi mobil yang permanen, dan tempatnya cukup bersih. Letaknya yang sangat dekat di pinggir jalan, tentu membuatku lebih mudah untuk berteduh, bersama buah hatiku ini.

Rasa syukur melekat di dadaku, yang mulai sesak. Tempat ini bersih. Aku membuka kedua sandalku dan kemudian duduk diatasnya.

Thoriq pun aku tempatkan disebelah dalam, menghindari terpaan angin kencang dan hujan yang mulai menari.

Tak banyak kata yang dilontarkannya, padahal biasanya, dia akan selalu bertanya, “ kenapa begini?” atau, “kenapa begitu?”

Mungkin dia peka akan keinginanku yang ingin meresapi suara hujan yang menetes dari ujung-ujung atap di depan kami. Atau mungkin juga dia merasa lelah.

Beberapa menit kemudian, “Mama, ayo pulang.”

“Masih hujan sayang...”

“Aku mau pulang.”

Dia mulai tak sabar, dan berdiri mendekati mobil yang bercat putih, teronggok dalam kebisuan di depan kami.

Tangannya mulai terulur untuk membuka pintu bagian depan.

“Nak, itu bukan mobil kita. Jangan sampai orangnya marah, dan mengusir kita dari sini.”

“Aku hanya melihat-lihat. Coba lihat ada bayanganku di pintu ini.”

Badannya pun di goyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Kepalanya pun mulai diangguk-anggukkan. Dia memang tak jadi menyentuh mobil. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Pandangan mulai aku alihkan ke langit. Masih gelap. Hujanpun sepertinya akan lama berhentinya.

“Mama... Kapan hujannya berhenti?”

“Mari kita berdoa! Ya Allah Yang Maha Pengasih, tolonglah kami. Tolong hentikan sejenak hujan ini, agar kami bisa pulang ke rumah.”

Thoriq cukup mengerti apa yang aku ucapkan. Dia hanya tersenyum memandangku. Dan kemudian mulai mengambil posisi, duduk diatas paha kiriku. Aku merasa keberatan, maka aku pun lesehan di lantai berwarna orange ini.

“Thoriq berat lho!”

“Aku nggak mau duduk sendiri.”

“Tapi Mama cape’ Sana duduk sendiri, disamping Mama, agar tak kena angin kencang.”

“Nggak mau.”

Ya sudah, dia lagi tidak enak hati. Aku biarkan dia menikmati tempat duduknya. Dan bersandar manja didadaku. Aku pun mencium pipi montoknya. Dan bersyukur kepada Allah memberikan aku seorang anak yang istimewa.

Hujan masih betah di langit. Langitpun masih berkabung. Aku memerhatikan tetesan-tetesan air dihadapanku. Aku menemukan keajaiban. Menemukan kekuasaan Tuhan pencipta hujan.

“Proses hujan tercipta diantaranya merupakan kumpulan dari awan-awan yang bersatu, yang dikerjakan oleh angin. Hingga awan itu menyatu, dan menjelma menjadi mendung. Jika manusia yang menciptakan hujan, tentu hujan yang turun bukan seperti saat ini. Mungkin berupa siraman, seperti jika kita mengambil air di sebuah timba, dan melemparkan airnya dijalanan. Tentu airnya yang terlempar bukan lagi tetesan.

Bukan seperti hujan dihadapanku ini. Hanya berupa tetesan-tetesan yang kecil. Walaupun ritme turunnya cepat, tapi tetap saja berupa tetesan kecil, yang akan aman bila kita berjalan dibawahnya.”

Beberapa menit kemudian.

Aku mulai browsing di ponselku. Tapi anakku juga ingin menggunakannya.

“Maaf Tho, Mama ingin membaca tulisan Mama.”

“Aku juga mau pakai.”

Aku membiarkannya untuk menggunakan ponselku. Dan diapun merubah tampilan ponselku.Sentuhan tangannya pun merambah nada dering. Hal yang sudah biasa dia lakukan. Hingga kadang, aku tak tahu bila ponselku berdering, aku tak mengenal nada deringnya.

Selintas aku merasakan sesuatu yang asing singgah di jeda waktuku ini. Aku merasakan seperti seorang gelandangan yang tak punya rumah, tak punya makanan. Hingga aku merasa nelangsa sendiri.

Aku berada ditempat asing. Sebuah garasi di pinggir jalan. Aku tak tahu siapa penghuninya, dan tak meminta ijin untuk menggunakannya. Mungkin saja mereka mencurigai kami, aku dan anakku. Mungkin saja mereka berpikir, dibalik jendela gelap mereka, bahwa kami patut dicurigai.

Sekarang kan lagi musimnya orang tak punya. Orang asing berada di sekitar rumah, memang perlu diwaspadai. Mungkin mereka memata-matai isi rumah. Mungkin saja. Jadi aku tidak perlu khawatir bila mereka punya perasaan itu. Aku akan maklum saja.

Atau mungkin saja, di saat hujan yang sangat lebatnya ini, kami akan diusir dari tempat ini, dengan berbagai alasan. Aku membayangkan, bahwa kami tak punya tempat berteduh yang nyaman selain di sini.

Tapi memang, nyaman atau tidak. Suka atau tidak, bila bukan milik kita, maka kita harus bersiap-siap untuk “hijrah”.

Mungkin pikiranku sedikit nyeleneh, tapi siapa sih yang tahu hati seseorang. Aku berpikir, jika hujan tak reda dalam beberapa waktu, maka aku akan hengkang dari tempat ini. Apapun resiko yang akan aku hadapi.

Lega rasanya dapat membuat keputusan, disaat aku tak ingin pindah dari sini.

Langit mulai putih. Hujan pun mulai malas menetes. Aku tersenyum, “Saatnya tiba!”

“Kita pulang ya Nak. Hujan mulai reda.” Aku mengamit lengan kecilnya dan mulai memasukkannya kembali kedalam jilbab panjangku.

“Mama gendong aku saja. Tanahnya becek.”

Aku pun mengendongnya, sambil berhati-hati menjejakkan kaki di jalanan. Menyebrangi jalan beraspal, melintasi jembatan Ulin yang cukup panjang.

“Haiii… singgah dulu. Nanti kamu basah.” Seorang kawan sedang bersih-bersih di teras depan rumahnya.

“Terimakasih. Aku mau cepat sampai.” Dengan senyum aku melewati rumahnya.

“Singgah aja Mbak. Maaf nih, aku nggak punya payung.” Seorang ibu yang berada di dalam rumahnya, berteriak cukup nyaring.

“Terimakasih Mbak. Nggak apa-apa, hujan udah reda kok.”

Jalan ini merupakan jalan alternatif. Aku suka melalui jalan ini. Sepanjang jalan ini aku mengenal baik penghuninya. Setiap melintasi daerah ini, membuatku merasakan kehangatan sapaan mereka, walau memang jarang sekali aku singgah untuk berbincang. Biasalah karena selalu diburu waktu.

Peristiwa disaat hujan ini, memberi sebuah pelajaran bagaimana kondisi batin seseorang yang menumpang pada sebuah tempat, tapi hatinya sedikit was-was, takut tidak disukai kehadirannya. Dan juga melihat betapa Allah mengasihi makhluknya, dengan menurunkan hujan hanya dengan berupa tetesan kecil, yang tetap aman bila kita terguyur hujan. Sapaan beberapa ibu yang kami lewati rumahnya, dan memanggil kami untuk berteduh di rumahnya, semuanya itu menghangatkan jiwaku.

Subhanallah. Semua waktu yang kita lalui selalu mempunyai hikmah, tinggal bagaimana kita menangkapnya untuk memaknainya dalam kehidupan ini.

Alhamdulillah.

Sengata, 3 januari 2011

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com

Source: http://www.eramuslim.com/oase-iman/halimah-aku-anakku-dan-hujan.htm

Tuesday, January 11, 2011

Wanita Adalah Sumber Fitnah, Benarkah ? (Senin, 27/12/2010 09:09 WIB)



Bagi para wanita, dalam hal ini saya lebih senang menyebutnya dengan perempuan, janganlah marah atau tersinggung dengan judul di atas, seakan-akan perempuan menjadi terasa didiskreditkan, mulai dari penghuni neraka terbanyak adalah perempuan, hingga yang menjadi sumber fitnahpun perempuan.

Saudariku, Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam, termasuk rahmat bagi kaum perempuan. Islam datang untuk memuliakan kaum perempuan. Islamlah yang telah 'menyelamatkan' eksistensi kaum perempuan di muka bumi. Mari kita me-refresh mengingat kembali kondisi-kondisi perempuan pada zaman jahiliyyah dahulu.

Orang-orang jahiliyyah dahulu ada yang mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru saja lahir dari rahim Ibunya, seperti kisah Kholifah Umar bin Khottob —rodiallohu'anhu— sebelum beliau memeluk Islam.

Diceritakan bahwa lahirnya seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga merupakan aib bagi keluarga, apalagi jika mereka memiliki kedudukan terhormat di masyarakat, oleh karena itu untuk menutup aibnya maka sang anak perempuan yang baru dilahirkan harus dibunuh.

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sungguh lebih dilecehkan lagi, perempuan hanya dipandang sebagai pelepas nafsu seksual lelaki, beberapa filosof Yunani Kuno seperti Aristoteles menilai perempuan sederajat dengan hamba sahaya, sedangkan Plato menilai kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan yang sederhana, hina sambil terdiam tanpa bicara. Perempuan zaman jahiliyyah juga tidak memiliki hak waris sedikitpun.

Dan masih banyak kondisi-kondisi mengenaskan lain yang dialami oleh perempuan sebelum Islam datang untuk menyelamatkan dan memuliakan kaum perempuan serta menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Di dalam pandangan Alloh orang yang paling mulia di sisiNya adalah orang yang paling bertakwa.

Dari paparan singkat di atas, sudah jelaslah bahwa Islam memuliakan, mengangkat eksistensi atau keberadaan kaum perempuan di masyarakat. Lalu kenapa perempuan bisa menjadi sumber fitnah ? Perempuan seperti apakah yang bisa menjadi sumber fitnah ? Ada juga yang menyebutkan bahwa para perempuan adalah pokok dari fitnah itu sendiri.

Kita sering mendengar nasihat berhati-hatilah dalam menjalani hidup ini, terutama terhadap tiga fitnah dunia yaitu harta, tahta dan wanita. Bahkan salah satu band musik papan atas di Indonesia mendendangkan lagu dalam syairnya menyatakan bahwa wanita adalah racun dunia.

Jika mau melihat kembali sejarah, sudah banyak kisah para pemangku kekuasaan di masanya yang jatuh tersungkur karena salah satu atau ketiga futnah di atas. Salah satu contohnya adalah pada era kepemimpian Bill Clinton, presiden Amerika yang mana akhir reputasinya yang 'cemerlang' jatuh di tangan seorang perempuan yang bernama Monica Lewinsky, seorang pegawai perempuan magang di gedung putih.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita. (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Sungguh, fitnah perempuan termasuk cobaan terbesar yang berbahaya bagi kaum laki-laki. Karena perempuan, seorang suami bisa melakukan korupsi dan merugikan negara hingga trilyunan, karena perempuan seorang suami bisa terpisah dari istri dan anaknya, karena perempuan pula dua orang laki-laki berkelahi hingga tertumpah darahnya, dan karena perempuan si cerdas dapat hilang dengan sekejap kecerdasannya kemudian berubah menjadi layaknya seorang robot yang siap dan bisa dengan mudah diperintah oleh tuannya yang bernama perempuan.

Seorang perempuan bisa menjadi sumber fitnah diawali dari tampilan-tampilan fisiknya, seperti baju yang dikenakan teramat 'menantang' atau memakai parfum yang sangat menggoda.

Mungkin akan ada sebagian perempuan yang bilang bahwa itu salah laki-lakinya saja, kenapa bisa (maaf) nafsu. Astaghfirullah, tidak ada akibat tanpa ada sebab, tidak ada asap tanpa ada api, jadi marilah saling introspeksi diri.

Fitrah manusia ingin diperhatikan, terlebih kepada kaum hawa, tapi seperti layaknya pakaian, pakaian yang diobral dengan yang ditaruh di rak khusus tentu akan berbeda harga, makanan yang dipajang di pinggir jalan dengan yang dibungkus dan disimpan di etalase tentu akan sangat jauh beda rasa, harga serta kebersihannya.

Jadi marilah kita sama-sama menjaga diri, menjaga harga diri serta kemuliaan kaum perempuan dengan membungkusnya dalam naungan Islam, salah satu contohnya dengan menggunakan pakaian sesuai syariat, tidak ketat atau membentuk lekuk tubuh.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al Imran [3] : 14)

Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita.” (HR. Muslim)

Salah seorang ustadz berkata, bahwa tak ada jalan lain bagi wanita agar tidak menjadi sumber fitnah, maka dia harus menjadi perempuan yang shalihah dengan mena’ati titah Alloh SWT dan Rasulullah SAW, jika sudah bersuami maka ditambah lagi dengan taat kepada suaminya, jika belum maka taatlah kepada kedua orangtuanya.

Jadi bagi kaum perempuan, mari kita sama-sama berusaha agar tidak menjadi sumber fitnah dengan menjadi perempuan shalihah, karena sesungguhnya perhiasan yang paling indah adalah perempuan shalihah, subhanallah! ^_____^

Wallahu’alam.

Siti Maemunah. Aktivitas: Bekerja dan Menulis.

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/wanita-adalah-sumber-fitnah-benarkah.htm

Jihad Islam: Israel Tidak Akan Mampu Patahkan Perlawanan Rakyat Palestina (Selasa, 11/01/2011 12:17 WIB)



Gerakan Jihad Islam mengatakan bahwa pendudukan Israel tidak akan pernah mampu memecahkan kehendak rakyat Palestina dan perlawanan mereka karena mereka adalah pemilik sah tanah Palestina, sembari memberi peringatan bahwa kelompok perlawanan di Gaza berhak membela diri terhadap setiap agresi militer Israel.

Pernyataan tersebut datang dalam sebuah simposium politik berjudul "Gaza tidak akan bisa dipecahkan" yang diselenggarakan oleh Jihad Islam pada hari Ahad malam lalu di selatan kamp pengungsi Wasta Libanon.

Petinggi Senior Jihad Islam Abu Sami Moussa menyatakan dalam sambutannya bahwa dua tahun setelah perang Israel terakhir di Jalur Gaza, dampak kerusakan yang masih ada dan ancaman perang Israel tidak pernah berhenti, namun dia menekankan bahwa keinginan warga Gaza yang kuat dan tidak bisa dipatahkan.

"Orang-orang kami bercita-cita untuk kebebasan melalui perlawanan bersenjata dan bukan proyek perdamaian yang dituduhkan," sorot Moussa.

Ia memperingatkan negara pendudukan Israel bahwa setiap tindakan militer terhadap masyarakat Gaza akan membuat pemukiman dan kota-kota mereka di bawah api serangan roket. (fq/pic)

Source: http://www.eramuslim.com/berita/palestina/jihad-islam-israel-tidak-akan-mampu-patahkan-perlawanan-rakyat-palestina.htm