Showing posts with label muslimah. Show all posts
Showing posts with label muslimah. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Apakah Jin Juga Punya Akal? (Kamis, 10/02/2011 05:19 WIB)

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, menurut pengetahuan yang saya peroleh, jin itu ada yang muslim dan ada yang kafir. Apakah kafir atau muslim itu adalah pilihan jin sendiri? Kalau memang pilihan, apakah berarti jin juga diberi akal seperti manusia?

Terima kasih atas jawaban ustadz, wassalamu'alaikum wr. wb.

Yusuf
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Yusuf yang dimuliakan Allah SWT

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin [72] : 11)

Artinya bahwa sebagian dari kalangan jin ada yang senantiasa berbuat kebaikan sementara sebagian lainnya tidaklah demikian, seperti halnya manusia ada di antara mereka yang berbuat baik namun tidak sedikit dari mereka yang berbuat buruk, ada yang beriman kepada Allah namun ada pula yang kufur terhadapNya.

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al jin [72] : 13–15)

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” disebutkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa jin pun mukallaf (terkena beban-beban syariah) dan yang dikenakan perintah berdasarkan firman-Nya SWT :

وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51] : 56)

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Artinya : “Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami,” (QS. Al Jin [72] : 1–2)

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ

Artinya : “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman [55] : 33–34)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan adanya taklif (beban-beban syariah) terhadap mereka bahwasanya mereka diperintahkan serta dilarang.

Ketika disebutkan cercaan dan laknat terhadap setan-setan serta perlindung dari tipu daya dan kejahatannya, disebutkan pula apa-apa yang disiapkan Allah SWT bagi mereka berupa adzab, dan ini tidaklah dikenakan kecuali kepada mereka yang melanggar perintah dan larangan, melakukan dosa-dosa besar, melampaui batas-batasnya disertai dengan adanya kesanggpuan baginya untuk tidak melakukan hal-hal itu atau kemampuan untuk melakukan selain perbuatan demikian.

Di bagian lain disebutkan pula pendapat jumhur ulama bahwa jin mendapatkan pahala atas ketaatannya dan siksa atas kemaksiatannya, berdasarkan firman-Nya :

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Dan Sesungguhnya di antara kami ada (jin-jin) yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al jin [72] : 13–15)

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya : “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf [46] : 19)

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Artinya : “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman [55] : 74)

Ibnu Hazm dan yang lainnya menceritakan dari Abu Hanifah berkata bahwa tidaklah ada pahala bagi mereka selain diselamatkannya dari neraka karena disebutkan didalam al Qur’an tentang mereka “Dia mengampuni dosa-dosa kalian” dan pengampunan tidaklah mengharuskan pahala karena ampunan adalah tabir.

Diriwayatkan dari Laits bin Abi Sulaim berkata, ”Pahala bagi jin adalah diselamatkan dari api neraka, lalu dikatakan kepada mereka,’Jadilah kalian tanah.” Diriwayatkan dari Abi Zannad berkata, ”Apabila para penghuni surga masuk surga dan para penghuni neraka masuk neraka. Allah berfirman, ”Bagi mereka yang beriman dari kalangan jin dan seluruh umat jadilah kalian tanah. Maka saat itulah orang-orang kafir berkata, ’Aduhai seandainya aku menjadi tanah (saja).”

Kemudian para ulama bersepakat bahwa jin-jin yang kafir kelak mendapatkan adzab di akherat, sebagaimana disebutkan Allah SWT didalam Al Qur’an

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Artinya : “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al Jin [72] : 15)

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Artinya : “Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad [47] : 12)

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa jin juga terkena beban-beban syariah dan kelak akan mendapatkan balasan dari ketaatannya atau siksa atas kemaksiatannya berarti mereka juga diberikan kemampuan (akal) untuk bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara perkara-perkara yang diperintahkan Allah dan dilarang-Nya karena atas dasar itulah seorang mukallaf mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.

Wallahu A’lam

Source: Eramuslim

Wednesday, February 9, 2011

How Easy Islam really is, Jannah, Good Manners

Narrated Abu Huraira (may Allah have mercy on him)
The Prophet (Sallallahu Alayhi wa Sallam) said, “Religion is very easy and whoever overburdens himself in his religion will not be able to continue in that way. So you should not be extremists, but try to be near to perfection and receive the good tidings that you will be rewarded; and gain strength by worshipping in the mornings, the nights.”
Sahih Bukhari Volume 1, Book 2, Number 38

Prophet Muhammad (pbuh) said, "O people, spread the salaam (greetings), feed the hungry, and pray while the people are asleep, you will enter Jannah in peace."
[Tirmidhi]

The Prophet Muhammad (peace be upon him) was reported to have said: 'The most perfect Muslim in the matter of faith is one who has excellent behavior; and the best among you are those who behave best towards their wives"
(From Mishkat al-Masabih, No. 0278(R) Transmitted by Tirmidhi)

Source: myhadithoftheday.com

Saturday, February 5, 2011

Ramadan, Islam, Good Deeds

Narrated Abu Huraira (RA): Allah's Apostle (SAW) said, "Allah said, 'All the deeds of Adam's sons (people) are for them, except fasting which is for Me, and I will give the reward for it.' Fasting is a shield or protection from the fire and from committing sins. If one of you is fasting, he should avoid sexual relation with his wife and quarreling, and if somebody should fight or quarrel with him, he should say, 'I am fasting.' By Him in Whose Hands my soul is' The unpleasant smell coming out from the mouth of a fasting person is better in the sight of Allah than the smell of musk. There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord; then he will be pleased because of his fasting."
[Sahih Bukhari, Chapter ‘Fasting', Volume 3, Book 31, Hadith 128]

Narrated Umm al−Ala: The Apostle of Allah (peace be upon him)visited me while I was sick. He said: Be glad, Umm al−Ala' for Allah removes the sins of a Muslim for his illness as fire removes the dross of gold and silver.
(Abu Dawud Bk 20,No 3086)

Prophet Muhammad (peace be upon him) said: "Do good deeds properly, sincerely and moderately. Always adopt a middle, moderate, regular course, whereby you will reach your target (of paradise). [Sahih Al-Bukhari, Volume 8,Hadith 470]

Source: myhadithoftheday.com

Saturday, January 22, 2011

Hafsah yang Gemar Berpuasa

Hafshah binti Umar bin Khatab adalah ummul mukminin yang gemar berpuasa dan shalat. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un binti Hasib. Hafshah adalah sebelumnya isteri dari sahabat Khunais bin Khudzafah al-Sahmi yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan Madinah.Suaminya Khunais syahid pada perang Uhud.

Meskipun, hidupnya dirundung duka nestapa, semenjak suaminya syahid di padang Uhud, dan penuh dengan duka, keimanan dan keteguhan (sikapnya yang tsabat) hati Hafshah dapat meredam segala yang terjadi dan menerpa dirinya, dan Hafshah menyadari benar bahwa semua adalah semata karena takdir-Nya.

Kesabaran, ketabahan, sikap hidup yang qanaah (ridha) selalu menyelimuti pribadinya. Tidak pernah berkeluh kesah dengan keadaan yang dihadapinya. Segalanya diterima penuh dengan ikhlas dan tawakal. Dijalaninya kehidupan sehari-hari tanpa rasa cemas dan khawatir, dan selalu yakin atas janji Allah Azza Wa Jalla. Hafshah yakin atas pertolongan dari Allah, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Wanita Muslimah itu benar-behar pasrah-seprasahnya. Tidak bersuudhon (berburuk sangka) kepada Allah Rabbul Alamin.

Karena sikap yang sangat zuhud dan wara’, dan selalu berpuasa itu, maka ia mendapatkan julukan ‘sawwamah’ (orang yang selalu berpuasa) dan qawwamah (orang yang selalu bangun malam). Hafshah tidak pernah henti berpuasa dan bangun malam untuk bertemu dengan Rabbnya. Hidupnya tidak dimanjakan dengan keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dari Rabbnya. Maka, ia selalu berpuasa, menahan lapar dan dahaga, dan terus bangun malam, meskipun di siang hari tetap bekerja.

Kemudian, Umar berkeinginan keras agar Hafshah dapat dipertemukan dengan Utsman r.a., namun dengan sikapnya yang halus, ternyata Utsman menyatakan ketidaksanggupannya. Betapa Hafshah di mata Utsman, wanita yang sangat mulia, puteri Umar, dan kehidupan yang penuh dengan zuhud dan wara’, serta berpuasa dan bangun malam. Demikian pula, sahabat Abu Bakar As-Sidiq, tak sanggup untuk menikahinya.

Tetapi, segala ketentuan kehidupan ada di tangan Allah Azza Wa Jalla, dan takdir dan hikmah-Nya yang sangat agung. Kemudian, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menikahinya dan menjadikan dia sebagai ‘ummul mukminun’, gelar kehormatan bagi para isteri Rasulullah Shallahu Alaih Wa Salam.

Dengan kehidupan yang begitu sedih, cobaan begitu berat, tetapi tidak menghilangkan rasa cintanya kepda Allah Azza Wa Jalla. Tetap bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah, berpuasa yang terus menerus, dan melakukan ibadah di malam hari, Hafshah akhirnya menjadi ‘Ummul Mukminun’. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di disisi-Nya.

Betapa kehidupan ini hanya dapat dinikmati dengan melakukan ibadah-ibadah yang berat, dan penuh dengan pengorbanan, serta menjadikan Rabbnya semata menjadi tujuan hidupnya. Kesedihan yang mula-mula mengawalinya dalam kehidupan, kemudian berakhir dengan kebahagiaan. Ummu Syahidah.

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/hafshah-yang-gemar-berpuasa.htm

Monday, January 17, 2011

Jangan Biarkan Pornografi Merenggut Kepolosan Anak-anak Kita (Senin, 17/01/2011 09:21 WIB)

(Oleh-oleh dari Seminar Sex & Financial Planning)
Senang sekali pagi tadi (Sabtu, 15/1) dapat berjumpa dengan Bunda Elly Risman dalam seminar “Sex & Financial Planning” di Universitas Paramadina. Meski telat, begitu masuk ruangan, saya sudah disuguhi dengan data dan fakta bahwa anak-anak usia SD di negeri kita tercinta ini sudah banyak yang melakukan seks bebas.
Bayangkan, usia SD! Saya hanya bisa mengelus dada melihat tampilan di layar proyektor yang menyajikan berbagai headline dari surat kabar mengenai kasus seks bebas yang menimpa anak-anak SD itu. Mereka tidak hanya menjadi korban, tapi banyak yang menjadi pelaku. Ada anak yang memperkosa teman sekelasnya, dsb.
Mungkin Anda tidak percaya, tapi survey yang dilakukan oleh Bunda Elly selama tahun 2008—2010 kepada anak-anak usia SD (kelas 4,5, dan 6) menyimpulkan bahwa mereka sudah kenal seks, dari yang ‘kelas ringan’ hingga ‘kelas berat’. Dalam survey itu, anak-anak juga diminta untuk menuliskan pertanyaan yang terkait dengan seks.
Rupanya, banyak istilah seks yang mereka tanyakan, yang aneh-aneh, yang saya sendiri juga tak sanggup menuliskannya di sini. Astaghfirullah! Ayah, Bunda, ke mana saja engkau selama ini…
Bunda Elly kemudian menjelaskan dengan rinci dari mana saja sumber pornografi itu dapat diakses oleh anak-anak. Tentu saja, media sangat berperan. HP, internet, games, televisi, koran, majalah, vcd, semua dapat diakses dengan mudah, kapan saja, di mana saja. Ayah, Bunda yang memberikan hape untuk putra/inya agaknya harus berpikir seribu kali mengenai dampaknya. Banyak video asusila dan adegan-adegan tak pantas dapat dengan mudah berpindah dari satu hape ke hape lainnya.
Belum lagi fasilitas internet yang hanya dengan sekali klik, ribuan situs porno dapat terakses. Sebagai catatan, ratusan situs porno bermunculan setiap minggunya. Bayangkan, ketika anak kita diberikan tugas Biologi mengenai nyamuk dan lalat, misalnya, mereka dapat dengan tidak sengaja mengakses situs porno karena situs ‘nyamuk**.com’ dan ‘lalat**.com’ salah satu situs porno. Ada beberapa situs porno yang paling banyak diakses oleh anak-anak, di antaranya: ***tube.com dan naruto***.com.
Selain internet, games juga jadi media porno yang efektif untuk anak-anak, lihat saja games GTA San Andreas dan Sims I & II yang banyak dimainkan oleh anak-anak tanpa pengawasan kita, bahkan kita sendiri pun belum tentu tahu games itu.
Baru-baru ini juga ada sebuah games yang diluncurkan, yaitu Rape Lay, yang banyak dikecam di dunia internasional karena menampilkan gambar-gambar seronok dengan vulgar dan jalan ceritanya pun memang dikondisikan seperti itu. Lihat saja dari judulnya, Rape Lay = Rape Play.
Naudzubillahi min dzalik kalau sampai anak-anak kita mengakses games itu. Ayah, Bunda, menjadi catatan juga untuk orang tua yang memperkenankan anak-anaknya untuk bermain di warnet dan games center. Untuk menarik fulus dari anak-anak, bahkan ada warnet yang menawarkan paket ‘Durhaka’, yakni dari Jumat malam hingga hari Minggu, anak-anak bisa main games sepuasnya ditambah disediakan makanan dan minuman pula hanya dengan membayar Rp50 ribu! MasyaAllah, jangan sampai kita jadi orang tua yang membiarkan anak-anak seperti itu.
Belum lagi dari televisi. Beberapa film kartun yang ditonton anak-anak juga merupakan sarana penyebaran pornografi, misalnya: Sinchan, Naruto, bahkan Popeye. Sinetron remaja juga setali tiga uang, bahkan tak segan menampilkan adegan ciuman oleh pelajar SMP! Ayah, Bunda, tak heran ya, jika begitu marak kasus seks bebas dan pornografi melanda anak-anak kita. Jangan kaget juga kalau belasan siswi di salah satu SMP negeri di Jakarta juga ketauan berprofesi sebagai PSK.
Dahsyatnya serbuan pornografi kepada anak-anak kita ternyata tak disadari oleh sebagian besar orang tua (dan mungkin kita termasuk di dalamnya). Ayah dan Bunda terjebak dalam pola lama, yaitu Ayah mencari nafkah, Bunda mengasuh anak. Ortu mengekspor tanggung jawab dengan menyekolahkan anak ke SDIT atau sekolah Islam lain. Saking sibuknya ortu, waktu akhir pekan pun malah diisi dengan ‘menceramahi’ anak ini-itu yang membuat jarak ortu dengan anak semakin jauh.
Ayah, Bunda, sadarkah kita dengan pola asuh yang kita terapkan selama ini? Anak-anak ‘berteriak’ minta diberikan pendidikan seks sejak dini, tapi kita masih tabu dan saru membicarakannya. Akankah kita berdiam diri saja, membeo, atau mengulang sejarah yang kelam?! Tidak.
Kini saatnya, Ayah dan Bunda mengubah pikiran, bahwa mengasuh anak yang merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga adalah tanggung jawab dunia akhirat. Kelak, kita akan ditanyai pada hari kiamat, bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Bagaimana cita-cita kita ingin menjadikan anak soleh-soleha, berguna bagi nusa dan bangsa, jika Ayah dan Bunda terus saja menuntut prestasi akademis tapi membiarkan jiwa sang anak labil tanpa pegangan agama?!
Sebagai solusi, Bunda Elly memberikan kiat dasar mengajarkan seksualitas sejak dini. (Ingat, seks dan seksualitas itu berbeda). Pertama, jangan borongan: mulai dari sedini mungkin, misal: anak usia 3-5 tahun diberikan pengetahuan tentang laki-laki dan perempuan. Kedua, hadirkan Allah selalu dalam berkomunikasi dan memberikan pengetahuan kepada anak. Ketiga, jangan pernah ekspor tanggung jawab sebagai ortu kepada sekolah. Keempat, perhatikan konsep diri anak, jangan sampai anak minder dan mempunyai konsep diri yang buruk karena omongan ortunya yang merendahkan. Kelima, biasakan anak untuk berpikir kritis. Keenam, jadilah model dan teladan yang baik untuk anak-anak, jangan sampai anak malah meniru para artis sebagai panutannya. Ketujuh, terlibat penuh dalam perkembangan anak, selalu tanya pendapatnya mengenai suatu hal.
Sebagai catatan, ortu juga mesti menuntaskan pengetahuan tentang Thaharah (bersuci) sebelum si anak berumur 10 tahun. Pada masa sekarang, karena gizi yang semakin baik, anak-anak ada yang mencapai baligh pada usia 9 tahun (perempuan) atau 10-11 tahun (laki-laki).
Maka, ortu harus memberikan pemahaman mengenai apa itu haid/menstruasi atau mimpi basah kepada anak dan apa konsekuensinya. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersuci atau mandi wajib setelah terjadi hal tersebut agar dapat melaksanakan ibadah seperti biasa. Ajarkan pula kepada anak mengenai hal itu.
Yang paling penting, ortu harus kompak memantau perkembangan anak dan jalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga anak tidak mencari pelarian lain. Buat tabel kurikulum pendidikan seks untuk tiap anak yang berisi kegiatan yang akan dilakukan, siapa mentornya, dan kapan dilaksanakan.
Misalnya, penjelasan mengenai dampak positif dan negatif internet, PS, HP, TV kepada anak-anak. Dalam menghadapi pertanyaan yang aneh-aneh dari anak, biasakan untuk tetap tenang, dan cek dahulu pemahaman anak, baru menjawab pertanyaan dengan sederhana dan sesuaikan dengan usia serta perkembangan anak.
Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan untuk Ayah, Bunda, dan teman-teman semua. Ayah, Bunda yang sudah menjadi orang tua, mulai saat ini, ubahlah pola asuh anak dan tanamkan agama sejak dini. Buat yang sudah menikah, saatnya untuk menimba ilmu tentang pola pengasuhan anak yang baik dan rencanakan bagaimana cara yang efektif mendidik anak.
Bagi teman-teman yang belum menikah, terus perbaiki diri dan mencari pasangan hidup yang baik agamanya karena sangat menentukan bagaimana generasi yang akan kita lahirkan kelak. Semoga bermanfaat.
Indah P. Rukmi (calon Bunda yang sedang belajar menjadi orang tua)

Source : http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/jangan-biarkan-pornografi-merenggut-kepolosan-anak-anak-kita.htm

Thursday, January 13, 2011

Dibandingkan Perempuan Barat, Muslimah Diakui Lebih Hebat di Bidang Sains (Tuesday, 24/08/2010 07:19 WIB)

Ketika negara-negara Barat meributkan bahkan gencar memberlakukan larangan muslimah berjilbab dan bercadar di tempat-tempat umum termasuk institusi pendidikan, ketika sebagian besar masyarakat Barat masih berpandangan bahwa Islam merendahkan dan menindas kaum perempuan, perempuan-perempuan muslim justru muncul sebagai kaum perempuan yang paling berpendidikan di seluruh dunia. Bahkan di negara Arab Saudi, yang memberlakukan aturan Islam yang ketat terhadap kaum perempuannya. Para muslimah di Arab Saudi rata-rata lulusan universitas dan menjadi kaum perempuan yang berprestasi dan sukses di dunia, antara lain di bidang ilmu pengetahuan.

In Picture: Samira Islam

Badan PBB yang membidangi masalah pendidikan, UNESCO dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa kaum perempuan yang mendaftarkan diri ke jenjang universitas dan kaum perempuan yang menyandang gelar sarjana di Arab Saudi jumlahnya melebihi rata-rata jumlah kaum perempuan di Barat yang bergelar sarjana atau mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas.

Laporan UNESCO juga menyebutkan, di 13 negera muslim, kaum perempuan yang menggeluti bidang ilmu pengetahuan persentasenya lebih tinggi dibandingkan kaum perempuan di AS. Bahkan di Arab Saudi, 40 persen sarjana yang bergelar doktor adalah kaum perempuan ! Diantara tokoh Arab masa kini yang dikenal aktif mengenalkan sains pada kaum perempuan sehingga mereka berminat mempelajari atau terjun ke dunia sains adalah Syaikh Mozah dari Qatar dan Puteri Sumaya di Yordania.

Tak diragukan lagi, perempuan-perempuan muslimlah yang kini memimpin revolusi sains di dunia Islam. Salah seorang muslimah yang prestasinya di bidang ilmu pengetahuan sudah diakui dunia dunia adalah Samira Islam. Seorang muslimah asal Saudi yang bergelar PhD dan satu dari sedikit perempuan dunia yang mendapat penghargaan "Women in Science" dari UNESCO.

Di negara asalnya, Samira berperan penting dalam mengembangkan sistem pendidikan bagi kaum perempuan. Ia mengatakan, dalam banyak hal, kondisi di Arab Saudi pada akhir tahun 1950-an--saat ia masih remaja--sangat jauh berbeda dengan sekarang. "Pada masa itu jumlah sekolah masih sangat sedikit dan pendidikan bagi kaum perempuan masih sangat primitif. Sebagian besar orang tua di Saudi lebih senang anak perempuannya diam di rumah, hanya belajar Al-Quran. Itulah pendidikan maksimal kaum perempuan Saudi kala itu," tutur Samira.

Tapi Samira beruntung memiliki orang tua, terutama ayahnya yang menginginkannya mendapatkan pendidikan yang baik. Ayah Samira menyewa jasa guru dari sekolah lokal untuk membimbing Samira belajar. Ketika memasuki jenjang sekolah menengah pertama, ayah Samiran menyadari fasilitas pendidikan jenjang sekolah menengah bagi anak perempuannya sangat minim di Saudi. Samira lalu dikirim ke Mesir untuk melanjutkan sekolah dan akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai mendapat gelar PhD di bidang farmasi.

"Gelar PhD yang berhasil saya raih menjadi berita besar di Saudi dan banyak orang yang mewawancarai ayah saya," kata Samira.

Ia lalu bercerita, "Ada sebuah surat kabar yang mewawancarai ayah saya, itu adalah terakhir kalinya ayah saya diwawancarai sebelum ia wafat. Pertanyaan terakhir yang ditanyakan wartawan surat kabar itu pada ayah saya adalah, bagaimana perasaannya tentang puterinya, yang menjdi perempuan Saudi pertama bergelar PhD. Ayah saya menjawab, 'Sekarang, saya bisa menerima kematian dengan tenang.'" Beberapa bulan kemudian, ayah Samira wafat dan Samira memutuskan untuk kembali ke Arab Saudi.

Samira kemudian bekerja Universitas King Abdul Aziz yang membuka perkualiahan khusus untuk mahasiswi meski mereka tidak diizinkan mendaftarkan diri secara resmi di universitas tersebut. Tapi tak banyak kaum perempuan yang mengikuti program perkuliahan itu karena jadwal kuliahnya selepas maghrib dan lokasi gedung kuliah yang terpisah dari kompleks universitas. Samira tidak nyaman dengan kondisi ini. Ia lalu memperjuangkan agar program perkuliahan khusus untuk mahasiswi dijadikan program resmi universitas tersebut.

Perjuangan Samira tidak berjalan mulus karena masyarakat Saudi masih sangat fanatik dan masih beranggapan bahwa kaum perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan di luar rumah. Pimpinan Universitas King Abdul Aziz mengingatkan Samira bahwa kelompok-kelompok fanatik akan membunuhnya jika nekad membuka perkuliahan khusus untuk mahasiswi. Tapi Samir bersikeras minta diberi kesempatan.

"Memang ada kelompok masyarakat yang fanatik--saya tidak senang menggunakan istilah kaum Islamis--yang merusak citra Islam, karena diantara mereka ada kalangan oportunis yang menentang sekolah untuk anak perempuan. Kelompok ini mendatangi Raja Faisal dan mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan anak-anak perempuan mereka sekolah. Raja Faisal lalu mengatakan, 'Bahkan jika sekolah itu ada di gurun pasir, siapa saja yang mau sekolah silahkan sekolah, yang tidak mau ke sekolah tidak perlu datang ke sekolah,'" papar Samira menceritakan pengalamannya.

Perjuangan Samira mulai membuahkan hasil pada tahun 1974. Anak-anak perempuan boleh secara resmi mendaftarkan diri ke universitas. Mereka bisa mengambil jurusan kedokteran dan sains. "Waktu berjalan dengan cepat dan sebagian besar masyarakat sekarang sudah bisa menerima perubahan itu," ujar Samira.

Di tahun pertama, kata Samira, ada 40 mahasiswi yang mendaftarkan diri ke jurusan sains dan 60 mahasiswi mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran. Sekarang, 55 persen dari jumlah total mahasiswa di Saudi adalah kaum perempuan. "Saya tidak tahu apakah ini karena pengaruh dari pengalaman saya tinggal di Mesir, tapi saya ingin melihat adanya perubahan meski lambat, dan banyak hal yang kini telah berubah. Kami memiliki muslimah-muslimah yang terbukti cerdas dan mampu menjadi seorang ilmuwan," tandas Samira.

Itu baru Arab Saudi, belum negara-negara muslim lainnya yang cenderung lebih memberi kelonggaran bagi kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Laporan UNESCO menunjukkan bahwa para muslimah dari dunia Islam sudah mengalahkan kaum perempuan di Barat dari sisi pendidikan. Bukan tidak mungkin, dunia ilmu pengetahuan di dunia yang pernah berjaya di tangan para ilmuwan muslim, di masa depan akan berada di tangan para muslimah-muslimah dari negeri-negeri muslim. (ln/elan)

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/dibandingkan-kaum-perempuan-barat-muslimah-diakui-lebih-hebat-di-bidang-sains.htm

Tuesday, January 11, 2011

Wanita Adalah Sumber Fitnah, Benarkah ? (Senin, 27/12/2010 09:09 WIB)



Bagi para wanita, dalam hal ini saya lebih senang menyebutnya dengan perempuan, janganlah marah atau tersinggung dengan judul di atas, seakan-akan perempuan menjadi terasa didiskreditkan, mulai dari penghuni neraka terbanyak adalah perempuan, hingga yang menjadi sumber fitnahpun perempuan.

Saudariku, Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam, termasuk rahmat bagi kaum perempuan. Islam datang untuk memuliakan kaum perempuan. Islamlah yang telah 'menyelamatkan' eksistensi kaum perempuan di muka bumi. Mari kita me-refresh mengingat kembali kondisi-kondisi perempuan pada zaman jahiliyyah dahulu.

Orang-orang jahiliyyah dahulu ada yang mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru saja lahir dari rahim Ibunya, seperti kisah Kholifah Umar bin Khottob —rodiallohu'anhu— sebelum beliau memeluk Islam.

Diceritakan bahwa lahirnya seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga merupakan aib bagi keluarga, apalagi jika mereka memiliki kedudukan terhormat di masyarakat, oleh karena itu untuk menutup aibnya maka sang anak perempuan yang baru dilahirkan harus dibunuh.

Pada zaman Yunani Kuno, martabat perempuan sungguh lebih dilecehkan lagi, perempuan hanya dipandang sebagai pelepas nafsu seksual lelaki, beberapa filosof Yunani Kuno seperti Aristoteles menilai perempuan sederajat dengan hamba sahaya, sedangkan Plato menilai kehormatan lelaki ada pada kemampuannya memerintah, sedangkan kehormatan perempuan ada pada kemampuannya melakukan pekerjaan yang sederhana, hina sambil terdiam tanpa bicara. Perempuan zaman jahiliyyah juga tidak memiliki hak waris sedikitpun.

Dan masih banyak kondisi-kondisi mengenaskan lain yang dialami oleh perempuan sebelum Islam datang untuk menyelamatkan dan memuliakan kaum perempuan serta menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Di dalam pandangan Alloh orang yang paling mulia di sisiNya adalah orang yang paling bertakwa.

Dari paparan singkat di atas, sudah jelaslah bahwa Islam memuliakan, mengangkat eksistensi atau keberadaan kaum perempuan di masyarakat. Lalu kenapa perempuan bisa menjadi sumber fitnah ? Perempuan seperti apakah yang bisa menjadi sumber fitnah ? Ada juga yang menyebutkan bahwa para perempuan adalah pokok dari fitnah itu sendiri.

Kita sering mendengar nasihat berhati-hatilah dalam menjalani hidup ini, terutama terhadap tiga fitnah dunia yaitu harta, tahta dan wanita. Bahkan salah satu band musik papan atas di Indonesia mendendangkan lagu dalam syairnya menyatakan bahwa wanita adalah racun dunia.

Jika mau melihat kembali sejarah, sudah banyak kisah para pemangku kekuasaan di masanya yang jatuh tersungkur karena salah satu atau ketiga futnah di atas. Salah satu contohnya adalah pada era kepemimpian Bill Clinton, presiden Amerika yang mana akhir reputasinya yang 'cemerlang' jatuh di tangan seorang perempuan yang bernama Monica Lewinsky, seorang pegawai perempuan magang di gedung putih.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita. (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Sungguh, fitnah perempuan termasuk cobaan terbesar yang berbahaya bagi kaum laki-laki. Karena perempuan, seorang suami bisa melakukan korupsi dan merugikan negara hingga trilyunan, karena perempuan seorang suami bisa terpisah dari istri dan anaknya, karena perempuan pula dua orang laki-laki berkelahi hingga tertumpah darahnya, dan karena perempuan si cerdas dapat hilang dengan sekejap kecerdasannya kemudian berubah menjadi layaknya seorang robot yang siap dan bisa dengan mudah diperintah oleh tuannya yang bernama perempuan.

Seorang perempuan bisa menjadi sumber fitnah diawali dari tampilan-tampilan fisiknya, seperti baju yang dikenakan teramat 'menantang' atau memakai parfum yang sangat menggoda.

Mungkin akan ada sebagian perempuan yang bilang bahwa itu salah laki-lakinya saja, kenapa bisa (maaf) nafsu. Astaghfirullah, tidak ada akibat tanpa ada sebab, tidak ada asap tanpa ada api, jadi marilah saling introspeksi diri.

Fitrah manusia ingin diperhatikan, terlebih kepada kaum hawa, tapi seperti layaknya pakaian, pakaian yang diobral dengan yang ditaruh di rak khusus tentu akan berbeda harga, makanan yang dipajang di pinggir jalan dengan yang dibungkus dan disimpan di etalase tentu akan sangat jauh beda rasa, harga serta kebersihannya.

Jadi marilah kita sama-sama menjaga diri, menjaga harga diri serta kemuliaan kaum perempuan dengan membungkusnya dalam naungan Islam, salah satu contohnya dengan menggunakan pakaian sesuai syariat, tidak ketat atau membentuk lekuk tubuh.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al Imran [3] : 14)

Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita.” (HR. Muslim)

Salah seorang ustadz berkata, bahwa tak ada jalan lain bagi wanita agar tidak menjadi sumber fitnah, maka dia harus menjadi perempuan yang shalihah dengan mena’ati titah Alloh SWT dan Rasulullah SAW, jika sudah bersuami maka ditambah lagi dengan taat kepada suaminya, jika belum maka taatlah kepada kedua orangtuanya.

Jadi bagi kaum perempuan, mari kita sama-sama berusaha agar tidak menjadi sumber fitnah dengan menjadi perempuan shalihah, karena sesungguhnya perhiasan yang paling indah adalah perempuan shalihah, subhanallah! ^_____^

Wallahu’alam.

Siti Maemunah. Aktivitas: Bekerja dan Menulis.

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/wanita-adalah-sumber-fitnah-benarkah.htm

Monday, January 10, 2011

I'm Muslimah and I'm Very Happy



Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami masih tetap bisa melakukan banyak hal tanpa perlu melanggar aturanNya. Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami menjadi lebih baik dari hari ke hari dalam ketaatan karenaNya. Dan bagaimana kami tidak bahagia, karena semakin kami bangga dengan kemuslimahan ini, maka semakin Allah menyayangi kami.

Tahukah engkau apa artinya jika Allah telah sayang pada seseorang? Mari kita dengar firmanNya dalam sebuah hadits qudsi :

Berkata Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda :

Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah dia.”

Beliau SAW kemudian bersabda :

Maka Jibril AS pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil terhadap penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.’ Maka seluruh penghuni langit mencintainya. Kemudian di bumi ia diterima.

Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia"

Lalu ia dibenci oleh Jibril AS. Kemudian Jibril AS memanggil penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya.'

Kemudian Beliau SAW bersabda : Kemudian ia di bumi dibenci oleh orang-orang.

[HQ. 3.5 Ditakhrijkan oleh Al-Bukhari, Muslim] [MZ74-79]

Lalu, apa lagi yang kurang dalam hidup ini jika Allah SWT, para malaikat, penghuni langit, dan penghuni bumi sedemikian istimewa menempatkan kita? Yakinlah, kita tak kan pernah merasa sendiri meski sedang seorang diri.

Akan selalu ada kebaikan dalam kebaikan tercipta, karena memang demikianlah keberkahan hidup terengkuh. Dan pastinya berbeda sekali dengan kedudukan orang kedua dalam hadits tersebut, dimana pasti menjadi pilihan berikutnya jika tak memilih pilihan sebelumnya, yaitu menjadi seseorang yang dicintai Allah SWT.

Jika jelas demikian, lalu alasan apa yang masih membuat sebagian dari kita enggan hidup dengan kemuslimahan ini?

Apa? Jadi muslimah itu ribet?

Apakah yang kau anggap ribet itu mengenakan kain penutup kepala yang lebar hingga menjuntai ke dada? Sementara itu adalah penjagaan terbaik dari Allah yang disebut hijab. Yang maknanya lebih dari sekedar kain penutup kepala. Yang dengannya engkau tak hanya aman, namun juga mengamankan mata dari yang bukan haknya.

Apakah yang kau sebut ribet itu harus memakai pakaian panjang longgar dan tidak transparan? Sementara justru itulah letak harga diri fisikmu. Pun demikian, kau juga aman dan mengamankan syahwat para lelaki tak kuat iman. Itulah yang disebut langkah preventif dari pintu perzinahan, terlebih (na’udzubillahi min dzalik) pemerkosaan.

Kalaupun toh memang ribet, hanya seribet itu kan? Ribet yang tak'kan membuat hidupmu sengsara. Sedikit kepanasan bukan masalah besar, toh akan menjadi sangat biasa jika kau mengenakannya tiap hari.

Ah, jika kita bicara ribet, bukankah shalat lima waktu itu lebih ribet dari pada yang “sembahyang” sepekan sekali? Jangan-jangan kau mengatakan shalat lima waktu juga ribet? Ups, maaf… bukan bermaksud su’udzan, hanya selintas pikiran yang tiba-tiba muncul sebagai bahan perbandingan.

***

Apa? Jadi muslimah itu sulit?

Hei, jangan membuatku tertawa. Bukannya justru sangat simple dan sangat nyaman dengan apa yang ada. Tidak perlu punya se-tas make-up tuk memoles wajah agar tetap terlihat cantik menarik, toh wanita bukanlah benda pajangan yang harus menarik perhatian. Kita sedang tidak jualan diri kawan! Tapi kita sedang hidup dengan akal, hati, dan jasad kita sebagai manusia yang bemartabat.

Muslimah tidak perlu update fashion hanya agar tidak dibilang kampungan dan ketinggalan jaman. Karena pakaian takwa ini adalah model yang tidak pernah lekang dimakan jaman. Akan tetap seperti ini dari dulu dan sampai kapanpun. Kenapa bisa demikian? Karena acuan syarat pakaian takwa ini sudah dipatenkan langsung dari yang menciptakan jaman, yang tentu saja lebih tahu tentang perkembangan jaman. Acuan syarat yang jauh lebih valid dan sempurna, karena juga diperhatikan efek samping untuk diri sendiri maupun untuk orang di sekitar.

Jadi, apanya yang sulit? Oh, apakah tidak bersentuhannya dengan lawan jenis yang bukan mahram, meskipun hanya berjabat tangan itu yang disebut sulit? Ketahuilah, bahwa justru itulah bagian dari istimewanya muslimah. Tak disentuh selain pada yang sudah berhak. Dengan garis jelas antara haram dan halal.

Dan siapa bilang sulit? Hanya perlu sedikit bersiasat agar tetap aman dan nyaman. Misalnya engkau hanya perlu menelangkupkan kedua tangan di depan dada, sedikit tersenyum sambil berucap, “Maaf, saya sudah wudhu.” kalau ketemu lawan dan suasana yang tidak kondusif untuk menjelaskan bahwa memang selain mahram dilarang bersentuhan. Karena tidak bisa dipungkiri masih banyak yang “belum bisa menerima” bahkan ada yang belum mengerti tentang hukum yang satu ini, dimana pernah dikisahkan bahwa Nabi SAW lebih memilih ditusuk dengan besi panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Dan ini sedang tidak berbohong, karena kalimat bentuk lampaunya tidak menjelaskan kapan waktu wudhunya, “sudah wudhu” bisa berdurasi sejam yang lalu, sehari yang lalu, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau kalau perlu setahun yang lalu. Jadi, kalau masih juga bilang sulit, itu tandanya sih kurang kreatif saja kali ya?

***

Apa? Jadi muslimah itu kudu pinter ngaji? Banyak tahu tentang hukum agama? Tidak boleh tertawa cekakan? Tidak boleh teriak-teriak? Tidak boleh jutek? Tidak boleh bla, bla, bla…

Ayolah kawan, jangan lagi cari alasan, karena semakin banyak alasan semakin menunjukkan kualitas diri, pun semakin menunjukkan kesalahan. Semuanya ada awal mulanya, semua ada proses dan alurnya. Engkau hanya perlu satu kata kunci sukses menjadi muslimah, yaitu taat. Bahasa Al-Qur’an-nya sih sami’na wa atha’na. Karena demikianlah sikap dan sifat para sahabat/sahabiyah dahulu ketika menerima ketentuan syari’at dari untaian tutur sang Nabi SAW.

Taatlah niscaya akan bahagia. Bukan bahagia yang semu, bukan bahagia yang dibayangi kekhawatiran takut kehilangan kebahagiaan itu sendiri. Tapi ini bahagia yang menghujam ke dasar kalbu. Bahagia yang membahagiakan. Karena hanya ada kata sabar dan syukur di dalamnya, yang bermula dari rasa yang sama; percaya akan kebaikan-kebaikan di setiap takdirNya. Tak ada umpatan, keluhan, apalagi penyesalan tentang kehidupan.

Jadi jika demikian tentang kebahagian itu, maka kamilah yang paling lantang berkata, “I’m muslimah and very happy.

Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/i-m-muslimah-and-very-happy.htm